Pasar perkantoran yang fleksibel sedang mengalami perubahan yang tenang, beralih dari model tradisional yang berfokus pada real estate menuju model yang memprioritaskan pengalaman anggota. The Malin, klub keanggotaan co-working yang didirikan pada tahun 2021, menjadi contoh perubahan ini, yang menggambarkan bagaimana pendekatan perhotelan dapat membangun loyalitas dan mendorong pertumbuhan dalam lanskap kompetitif.
Beyond Square Footage: Kekuatan Layanan yang Dipersonalisasi
Pembeda utama The Malin bukanlah ruang fisiknya, namun tingkat layanan yang diberikan kepada anggota. Salah satu contohnya: ketika seorang anggota kehilangan label bagasi untuk koper Rimowa yang mahal, staf segera memesan pengganti yang dibuat khusus sebagai hadiah kecil. Tindakan ini, meskipun tidak mahal, menciptakan kesan mendalam, memicu promosi dari mulut ke mulut dan rujukan yang positif.
Anekdot ini melambangkan tren yang lebih luas: kesuksesan ruang kerja fleksibel tidak lagi ditentukan hanya oleh lokasi atau fasilitas. Sebaliknya, mereka memenangkan hati pelanggan dengan memberikan layanan yang dipersonalisasi dan mengantisipasi kebutuhan dengan cara yang sering kali gagal dilakukan oleh ruang kantor tradisional. Pendiri Malin, Ciarán McGuigan, dengan sengaja memposisikan perusahaan sebagai ruang kerja untuk anggotanya, bukan sekadar penyedia real estate.
Bangkitnya Ruang Kerja yang Berpusat pada Pengalaman
Peralihan menuju co-working yang berbasiskan keramahtamahan sangat penting mengingat permasalahan WeWork baru-baru ini, yang keruntuhannya mengungkap kelemahan dalam model real estat yang pertumbuhannya dengan segala cara. Meskipun WeWork berfokus pada ekspansi cepat dan penyewaan agresif, The Malin telah memilih strategi yang lebih hati-hati dan berfokus pada anggota. Pendekatan ini mungkin tidak berkembang dengan cepat, namun mendorong loyalitas yang lebih kuat dan pertumbuhan organik.
Implikasinya jelas: fase kerja fleksibel berikutnya akan memberi penghargaan kepada perusahaan yang memprioritaskan penciptaan lingkungan yang ramah dan mendukung dibandingkan memaksimalkan luas lahan. Dengan memperlakukan anggota seperti tamu dan bukan penyewa, The Malin memberi sinyal potensi cetak biru untuk masa depan dunia kerja.
Keberhasilan model ini bergantung pada kesadaran bahwa pekerja modern mencari lebih dari sekedar meja kerja; mereka menginginkan rasa memiliki, perhatian yang dipersonalisasi, dan ruang kerja yang terasa seperti perpanjangan standar keramahtamahan mereka.




















