Bagi banyak pelancong modern, makanan di pesawat identik dengan nampan plastik dan makanan hangat. Namun, sebuah acara kuliner baru-baru ini di Portland menunjukkan bahwa sejarah bersantap di dalam pesawat dulunya ditentukan oleh lebih dari sekedar makanan—ini adalah era kemewahan yang tinggi, layanan teater, dan dekadensi kuliner.

Pada jamuan makan malam khusus tujuh menu yang diadakan di Loyal Legion PDX, sejarawan makanan dan pakar kuliner berkumpul untuk menciptakan kembali evolusi langit. Acara tersebut, yang dikurasi oleh mantan penulis Simpsons Bill Oakley dan dilaksanakan oleh tim kuliner Loyal Legion, menelusuri perjalanan kuliner maskapai penerbangan dari awal yang sederhana hingga “Zaman Keemasan” pada pertengahan abad ke-20.

Evolusi Menu Dalam Pesawat

Sejarah makanan maskapai penerbangan adalah kisah kemajuan teknologi. Ketika pesawat tumbuh lebih besar dan lebih mumpuni, begitu pula dapur di dalamnya.

  • Era Awal (1920-an): Pada masa awal penerbangan komersial, kemewahan belum ada. Penumpang sering kali hanya disuguhi kopi dan ayam goreng dingin.
  • Zaman Keemasan (1950-an–1970-an): Periode ini menandai “puncak” bersantap di dalam pesawat. Pengenalan jet berbadan lebar menyediakan ruang dapur yang jauh lebih besar, memungkinkan maskapai penerbangan beralih dari makanan ringan sederhana ke menu gourmet multi-menu yang kompleks. Selama ini, santapan mewah bukan hanya sebuah pilihan; itu adalah ekspektasi bagi penumpang premium.
  • Era Modern: Meskipun kabin premium saat ini masih menawarkan pilihan berkualitas tinggi, skala layanan—seperti ukiran tulang rusuk utama di kursi penumpang—telah beralih menjadi barang langka.

Perjalanan Melalui Kursus

Acara di Portland menggunakan hidangan spesifik yang terinspirasi dari sejarah untuk menggambarkan bagaimana berbagai maskapai penerbangan menggunakan makanan untuk menciptakan identitas merek dan “tema” yang unik.

1. Era Kebutuhan (1919)

Acara makan malam dimulai dengan penerbangan komersial pertama antara London dan Paris. Karena menu-menu dari era ini tidak terdokumentasi dengan baik, para sejarawan membuat ulang pilihan yang akurat pada periode tersebut: sandwich mentimun dan selada dan acar lidah sapi pada roti roti Pullman yang lembut.

2. Branding Eksotis (1950an–1960an)

Maskapai penerbangan sering kali menggunakan makanan untuk bersandar pada identitas nasional mereka atau menargetkan demografi tertentu.
* Qantas (Australia): Menunya menampilkan sup ekor kanguru, hidangan khas yang menonjolkan akar asal maskapai penerbangan ini di Australia.
* Mohawk Airlines (AS): Dalam contoh pemasaran khusus yang menarik, Mohawk menawarkan “Layanan Gaslight” pada tahun 1960-an. Dirancang khusus untuk pria, layanan ini menampilkan estetika era Victoria, di mana penumpang disuguhi bir, keju, dan pretzel, dengan cerutu tersedia untuk dibeli.

3. Puncak Kemewahan (1950an–1970an)

Era ini mewakili puncak perjalanan “megah”, di mana makanan menjadi inti dari pengalaman penerbangan.
* Pan Am: Lobster Americaine yang ikonik adalah makanan pokok Pan American World Airways yang legendaris.
* TWA (Trans World Airlines): Untuk penumpang kelas satu, hidangan utama sering kali berupa Chateaubriand dengan foie gras truffle, potongan daging premium yang secara tradisional diukir dari troli bergulir tepat di kursi penumpang.
* Alaska Airlines: Selama penerbangan carter mereka ke Uni Soviet pada tahun 1970-an, maskapai ini menggunakan “Layanan Samovar Emas”, yang menyajikan kursus bertema Rusia seperti kaviar dan blini agar serasi dengan seragam pramugari bergaya Cossack.

4. Berakhirnya Sebuah Era (2003)

Hidangan terakhir, panna cotta buttermilk dengan buah beri, disajikan sebagai penghormatan yang mengharukan untuk penerbangan terakhir Concorde, menandai berakhirnya era perjalanan supersonik.

Mengapa Ini Penting

Peralihan dari layanan mewah pada tahun 1960an ke makanan standar saat ini mencerminkan tren yang lebih luas dalam penerbangan: prioritas pada efisiensi, peningkatan besar-besaran dalam volume penumpang, dan peralihan dari “perjalanan mewah” ke “transportasi massal”. Makan malam bersejarah ini membuktikan bahwa makanan maskapai pernah menjadi bagian penting dari “teater” penerbangan, yang digunakan oleh maskapai penerbangan untuk membedakan diri mereka di pasar yang sedang berkembang.

Kesuksesan acara kuliner bersejarah ini—yang menarik wisatawan dari berbagai penjuru negeri—menunjukkan nostalgia yang mendalam akan era ketika penerbangan tidak hanya sekedar perjalanan dari titik A ke titik B, namun juga tentang pengalaman perjalanan itu sendiri.

Seiring dengan terus berkembangnya dunia penerbangan, rekreasi kuliner ini berfungsi sebagai pengingat akan masa ketika langit masih menjadi tempat untuk menikmati kuliner dan bukan sekedar transit logistik.